Berita Lainnya

Sulitnya Mendapat Kuota Berobat di Rumah Sakii Pusat Otak Nasional (RSPON)

Saya (RM 0012-50-40) dan adik saya (RM 00117043) adalah pasien rawat jalan di Rumah Sakii Pusat Otak Nasional (RSPON) Cawang selama 3 tahun terakhir. Kami berdua berobat di Poli Epilepsi dengan menggunakan BPJS.

Saya menyadari bahwa BPJS menerapkan kuota online untuk setiap RS bagi pasiennya. Kuota online BPJS di RS PON adalah 20 pasien, sedangkan kuota offline berkisar antara 5-10 pasien (tergantung pada jumlah dokter yang praktek saat itu).

Saya memahami bahwa kuota BPJS yang disediakan oleh pihak RS PON terbatas, mengingat jumlah pasien yang datang tidak sebanding dengan kuota yang tersedia. Terkadang saya berhasil mendapatkan kuota online, tetapi sering kali saya harus datang langsung untuk mendapatkan kuota offline. Untuk mendapatkan kuota offline ini, saya harus berangkat minimal jam 5 pagi dari rumah! Bahkan, ada beberapa pasien yang rela datang jam 4 pagi hanya untuk mendapatkan kuota ini. Sementara itu, pendaftaran baru dimulai jam 7!

Awalnya, saya bisa memaklumi situasi ini. Namun, kemarin, Selasa, 27 Januari 2026, saya dan adik saya sudah datang sejak subuh! Kami menunggu lama, hingga jam 6:55, pihak security dengan mudahnya mengatakan bahwa Poli Epilepsi sudah tutup sejak tadi! Tanpa ada pemberitahuan apapun kepada kami.

Pihak security menjelaskan bahwa pada hari Selasa, 27 Januari 2026 hanya ada 1 dokter yang praktek. Jadi, kuota offline tidak bisa lebih dari 5 orang. Kami diminta untuk datang lagi keesokan harinya, dan kejelasannya belum pasti apakah ada kuota offline untuk kami atau tidak. Saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pihak security karena mereka pasti sudah mendapatkan mandat dari atasan/internal mereka terkait penambahan kuota offline ini.

Perlu dicatat, saya dan adik saya bukan tidak mau booking online. Namun, sebelumnya kami diminta untuk rujuk kembali pada tanggal 27 Januari. Sementara itu, rujukan BPJS saya sudah habis pada tanggal 25 Januari 2026. Otomatis, saya harus datang tanpa kuota online.

Bahkan, ketika saya memperpanjang rujukan kami ke RS Aulia, pihak RS Aulia terlihat bingung karena seharusnya saat ini kami tidak perlu meminta pengantar rujukan kepada mereka seperti yang dilakukan sebelumnya. Namun, hingga saat ini, RS Aulia belum menerima informasi apapun dari RS PON atau pihak terkait lainnya. Meskipun demikian, kami akhirnya mendapatkan bantuan dari pihak RS agar rujukan kami dapat aktif kembali.

Saya dan adik saya berusaha keras untuk bisa bertemu dokter pada hari itu, karena kami perlu mendapatkan obat yang harus kami tebus dan konsumsi setiap bulannya. Untungnya, kami masih bisa bertemu dokter dan mendapatkan obat yang diperlukan.

Namun, ternyata ini belum sepenuhnya berakhir. Saya selalu memeriksa kuota Poli Epilepsi di bulan berikutnya setiap kali keluar dari ruang dokter. Betapa terkejutnya saya ketika mengetahui bahwa kuota online sudah penuh hingga akhir bulan!

Saya tidak paham bagaimana RS PON menerapkan kuota online dan offline BPJS bagi pasiennya. Saya juga tidak tahu apakah ada data bulanan mengenai jumlah pasien yang berkunjung ke Poli setiap bulannya. Jika ada, seharusnya Anda bisa melakukan evaluasi lebih lanjut mengenai hal ini, bukan? Saya dan adik saya belum berusia lanjut dan masih bisa berjalan dengan bebas. Bagaimana jika situasi yang sama terjadi pada pasien lain yang kondisinya lebih parah dari kami?!

Saya pernah mengantar kakak saya untuk berobat ke RS Dharmais. Namun baik kuota online maupun offline BPJS untuk ke Poli tidak sesulit di RS PON, mengingat Dharmais juga merupakan RS khusus seperti RS PON. Ini adalah hal yang sangat saya sayangkan.

Mohon jawaban dan pertimbangkan hal-hal berikut:

  • Di bagian pendaftaran RS PON, terdapat 7-8 meja. Namun, kenapa hanya ada 1 meja yang dibuka untuk pendaftaran ke Poli, yang dilayani oleh 1 orang (Pak K***) saja? Sementara itu, ada 2 meja di samping Pak Kana yang tidak terpakai.
  • Apakah pasien diperbolehkan melakukan double booking (tanggal berbeda) untuk antrian online? Saya merasa curiga jika ada double booking oleh pasien yang sama sehingga kuota cepat habis.
  • Sebaiknya setiap bulan pasien melakukan kontrol ke dokter, semua pihak terkait (administrasi, dokter, atau farmasi) menanyakan kepada pasien apakah bulan depan perlu bertemu dokter atau hanya mengambil obat saja? Jika hanya mengambil obat, sebaiknya tidak perlu menggunakan booking online, sehingga kuota tidak cepat habis. Karena saya dan adik saya selama ini hanya ingin mengambil obat saja. Jika terpaksa harus booking online juga, mohon dipisahkan dengan pasien yang memerlukan konsultasi dengan dokter.

Semua bukti terkait laporan ini saya lampirkan sebagai bahan pertimbangan. Terima kasih.

Rani Maharani
Jakarta Selatan

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.