QR Code Subsidi Tepat My Pertamina Diblokir, Pelayanan Call Center Pertamina 135 Sangat Buruk
Saya sangat dirugikan dengan QR Code Subsidi Tepat My Pertamina. Sebelumnya saya sudah mendaftarkan di aplikasi My Pertamina untuk mendapatkan QR Code. QR Code tersebut juga sudah bisa saya gunakan. Namun pada tanggal 15 November 2025, ketika saya gunakan di SPBU Rest Area Jagorawi dekat exit Sentul Selatan, QR Code tersebut tidak dapat digunakan.
Petugas SPBU menyarankan saya untuk menghubungi call center Pertamina 135. Saat itu kondisi SPBU sangat ramai. Kurang lebih saya mengantre selama 15 menit. Agar saya bisa mengisi BBM, petugas menyampaikan bahwa saya harus mengantre kembali dari awal karena jalur pengisian saya hanya menyediakan BBM jenis Pertalite. Karena QR Code saya tidak bisa digunakan, mau tidak mau saya harus mengisi BBM jenis Pertamax dan perlu mengantre kembali dari awal.
Saya lampirkan juga screenshot aplikasi My Pertamina yang menyatakan bahwa di aplikasi tersebut tidak ada keterangan terblokir dan tertulis bahwa saya masih berhak mendapatkan BBM bersubsidi.
Ketika saya hendak mengantre kembali untuk mengisi Pertamax, saat itu kondisi rest area sangat ramai. Untuk berputar dan mengantre kembali, saya perkirakan membutuhkan waktu sekitar 40–50 menit. Mengantre awal saja sudah memakan waktu sekitar 15 menit, apalagi harus memutar ulang dan mengantre dari awal. Artinya, apabila saya mengantre kembali, waktu saya dapat terbuang kurang lebih 1 jam. Saat kejadian itu, saya juga perlu bertemu seseorang untuk keperluan bisnis.
Karena kondisi sangat padat, sambil memutar kendaraan saya menelpon call center Pertamina 135. Namun bukan solusi yang saya dapatkan, justru pelayanan call center-nya sangat buruk. Petugas yang menerima telepon saat itu bernama De** dan menyampaikan bahwa QR Code saya terblokir.
Karena tidak puas dengan jawabannya, saya meminta agar disambungkan ke leader call center tersebut. Leader-nya bernama Di**. Saya menanyakan alasan QR Code saya terblokir, dan dijelaskan bahwa QR Code saya diblokir karena penyalahgunaan subsidi. Saya merasa tidak pernah melakukan penyalahgunaan karena pembelian BBM saya selalu normal. KTP, STNK, BPKB, serta data pada aplikasi My Pertamina semuanya atas nama saya.
Saya meminta penjelasan lebih lanjut mengenai letak penyalahgunaannya, namun leader call center tersebut tidak dapat menjelaskan. Saya justru diminta menunggu hingga 14 hari kerja ke depan untuk proses banding. Ia juga menyampaikan bahwa akun saya terblokir sejak 31 Oktober 2025. Mendengar hal tersebut, saya semakin terkejut. Mengapa sejak 31 Oktober 2025 akun saya terblokir, tetapi tidak ada notifikasi atau email pemberitahuan?
Saya baru mengetahui adanya pemblokiran ketika hendak mengisi BBM pada 15 November 2025. Padahal ketika membuka aplikasi My Pertamina, tertulis bahwa saya masih berhak mendapatkan subsidi tepat dan tidak ada keterangan terblokir. Saya sudah menghabiskan banyak waktu, dan urusan bisnis saya pun menjadi kacau karena QR Code tidak dapat digunakan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Lebih parahnya lagi, selain jawaban yang tidak memuaskan, kondisi call center yang saya hubungi juga sangat berisik. Bahkan saya mendengar seseorang di belakang mengatakan kata-kata kasar. Saya sangat kaget mendengarnya. Saya sampai menegur leader call center tersebut karena bahkan ketika ia sedang melayani pelanggan, suasana di belakangnya sangat berisik dan tidak profesional. Ini benar-benar call center terburuk yang pernah saya hubungi.
Alif
Depok, Jawa Barat
