Maybank Melakukan Penawaran dengan Nomor Acak dan Tidak Segan untuk Berbohong
Sebelumnya, sudah beberapa kali saya menerima telepon telemarketing dari Maybank yang masih saya anggap wajar dan bisa ditoleransi. Namun, pada bulan Oktober ini, Maybank melakukan penawaran dengan cara yang sangat mengganggu, bahkan dapat dikategorikan sebagai teror, melalui panggilan dari nomor telepon berbeda-beda atau acak.
Mengapa dari nomor acak? Karena penawaran tersebut diserahkan kepada pihak ketiga agar konsumen kesulitan memblokir nomor yang tidak diinginkan, sementara pihak bank bisa berkelit dengan berpura-pura tidak tahu atau melimpahkan kesalahan kepada pihak ketiga tersebut.
Berikut kronologi panggilan penawaran yang saya alami selama bulan Oktober:
- 7 Oktober 2025, pukul 16.15, nomor telepon 021-40511811, penawaran cicilan.
- 8 Oktober 2025, bahkan sampai dua kali panggilan:
- Pukul 15.09, nomor telepon 021-50100221, penawaran KTA.
- Pukul 15.23, nomor telepon 021-50610886, penawaran KTA.
- Pukul 16.31, missed call dari nomor 021-50162811 (kemungkinan dari Maybank juga).
- 9 Oktober 2025, pukul 14.08, nomor 021-40168811, penawaran cicilan.
- 10 Oktober 2025, pukul 14.30, nomor 021-50130456, penawaran KTA.
Empat hari berturut-turut saya menerima lima kali panggilan dengan penawaran yang berulang kali saya tolak. Sangat mengganggu! Hari itu juga saya mengajukan komplain atas gangguan tersebut dengan nomor laporan 251010C000057.
- 13 Oktober 2025, saya menerima email dari Maybank yang menyatakan bahwa “data Anda telah dihapus dari penawaran apa pun di Maybank, terutama KTA, dengan nomor handphone xxxxxxxx9330 pada tanggal 13 Oktober 2025.”
Namun, hasilnya justru seperti ini:
- 17 Oktober 2025, pukul 09.39, nomor telepon 021-50100259, penawaran kenaikan limit (biasanya diikuti dengan penawaran KTA).
- 25 Oktober 2025, pukul 11.21, nomor 021-50100283, penawaran KTA.
Luar biasa, ternyata email Maybank yang menyatakan bahwa data saya sudah dihapus dari daftar penawaran adalah sebuah kebohongan. Baru kali ini saya menemui bank yang tidak memiliki etika dan integritas.
Seharusnya pemerintah melarang praktik telemarketing oleh lembaga keuangan menggunakan nomor acak, agar dapat meminimalisir potensi penipuan.
Djuwanda
Surabaya, Jawa Timur
